keys*sari.is.me

A journey of a thousand miles starts with a single step

Trip to Jogjakarta (3 hari 2 malam)

on 25 July 2012

Syukur alhamdulillah akhirnya kepengenan tuk pergi ke Jogja kemaren tanggal 11 – 15 Juli 2012, tersalurkan sudah. Berdua dengan seorang teman saya, Ena, kami menjelajah kota Jogja dengan prinsip hemat, nikmat, sampai dengan selamat🙂

Mau tau hematnya (untuk ukuran berdua)? Berikut ku tunjukkan rincian biayanya yang pasti masuk akal buat kantong celanaku yang agak bolong ^.^

Travel Malang – Jogjakarta PP : Rp 210.000

Penginapan 3 hari 2 malam/orang: Rp 110.000

Becak Hotel – Taman Sari – Kraton – Dagadu Shop PP: Rp 20.000

TransJogja Hotel – Prambanan PP: Rp 6.000

TransJogja Hotel – Benteng Vredenberg – Malioboro PP: Rp 6.000

Becak dari Malioboro ke Gudeg Yu Jum, dan Pabrik Bakpia PP: Rp 5.000

Total yang pengeluaran: Rp 357.000 (belum termasuk makan, tiket masuk lokasi wisata dan oleh-oleh)

Murah banget kan ….. :DD

Travelling ini memang termasuk salah satu “kegilaan” kami yang paling edan. Bagaimana tidak, cukup aneh tentu saja bagi 2 orang perempuan jalan-jalan yang cukup jauh dari rumah. Aku, karena tinggal di Malang – Jawa Timur, harus berangkat dengan travel pada hari Rabu malam, 11 Juni 2012 untuk bisa sampai di Jogja pada Kamis pagi. Sedangkan temanku, Ena, harus berangkat dari rumahnya di Bekasi Kamis pukul 3 dini hari tuk mengejar pesawat terpagi ke Jogja, 6.05. Wattan insane!!!!

Lepas dari semua itu, suasana Jogja benar-benar membuat kita ingin terus berjalan dan berfoto ria. Meskipun mata ini sangat cepat terlelap saat bertemu bantal dan kasur penginapan hihihihi.

Berikut review lengkapnya, sapa tau bisa menjadi referensi kamu saat jalan-jalan ke kota Gudeg……

eng ing eng😛

1. Penginapan Hotel Puspa, Jl. Mayjen Sutoyo No. 64

Walaupun terhitung murah meriah dan sempat ragu-ragu, setelah sampai di lokasi hotel ternyata jauh dari bayangan awal. Tempatnya bersih, nyaman, dan petugasnya cukup ramah juga sangat membantu dengan informasi angkutan buat kami yang notabene buta peta Jogja.

Lokasi penginapan di pinggir jalan raya dan sangat dekat dengan Halte Sugiono 1 dan 2, kurang lebih 5-10 menit berjalan kaki. Oya, jangan bingung apabila petugas Transjogja yang kalian tempati tidak menyebutkan Halte Sugiono, karena seringkali mereka menyebut halte ini sebagai Pujokusunan (nama sebuah Sekolah Dasar yang berada persis di dekat halte Sugiono)

Fasilitas kamar yang kami pesan juga sesuai dengan harga yang ditawarkan, dua kamar tidur yang cukup nyaman, lengkap dengan selimut dan bantal, lemari, meja, dan televisi warna, juga dilengkapi AC. Ketika melongok ke kamar mandi, ketakutan kami pun hilang karena ternyata bersih dan airnya juga segar.

Kesimpulannya, hotel ini nyaman dan memadai untuk sekedar beristirahat bagi backpacker atau semi backpacker seperti kami ini🙂

untuk lebih lengkapnya kalian bisa liat di

http://www.yogyes.com/en/yogyakarta-hotel/cheap/hotel-puspita/

2. TransJogja

 Inilah penampakan dari TransJogja.

Meskipun penampilan luar nampak sudah cukup tua, namun di dalamnya nyaman tak terkira (AC dan penumpang yang tak berjubel, kecuali trayek ke tujuan wisata ternama).

Dengan menumpang bus ini, kami cukup membayar Rp 3.000 per orang untuk keliling jogja, persis seperti TransJakarta. Cukup naik Transjogja, kami bisa sampai Candi Prambanan, Malioboro, Benteng dan Vrederberg; sedangkan tujuan wisata lainnya kami datangi dengan menggunakan becak karena lokasinya yang cukup dekat dengan penginapan dimana kami tinggal.

3. Taman Sari

 Menurut pemandu kami, taman sari ini adalah kolam pemandian istri-istri Sultan pada jaman dahulu.

Di kolam inilah para istri Sultan melakukan ritual mandi sebelum dipilih salah satu dari mereka tuk menemani Sultan di hari itu.

Tak terbayangkan indahnya jaman dulu, namun sayang saat kami sampai disana air kolam seperti sengaja dikeringkan (hanya ada sedikit air di dasar kolam). Namun, periuk tempat istri-istri Sultan bercermin masih utuh tersimpan di tempat ini membuat kita membayangkan bagaimana mereka bercermin dari pantulan air yang tenang………..#eaaaaa

Dari penjelasan yang diberikan oleh pemandu kami, konsep pembangunan taman sari ini memiliki arti yang sangat mendalam. Bentuk bangunannya merupakan perpaduan dari ciri bangunan islam, nasrani, dan hindu/budha; hal ini tentu saja menunjukkan bahwa sejak jaman dulu toleransi antar umat beragama terbina dengan sangat baik dan kuat.

Melihat ke arah pintu-pintu bangunan, terdapat perbedaan ketinggian antara pintu masuk dan pintu keluar dimana pintu masuk lebih rendah dibandingkan pintu keluar. Menurut pemandu kami, perbedaan ketinggian ini secara tidak langsung mengajarkan kepada seluruh penghuni taman sari untuk selalu menundukkan badan ketika masuk dengan tujuan untuk kesopanan dan unggah-ungguh. Sedangkan pintu keluar lebih tinggi untuk memberikan perasaan lega dan legawa ketika meninggalkan bangunan.

Selain perbedaan ketinggian, pinggiran tembok pintu tamansari memiliki perbedaan kemiringan yang berarti bahwa kita dilarang untuk menilai seseorang dari luarnya saja karena bisa jadi orang tersebut memiliki hati yang besar dan bijaksana.

Selanjutnya, ketika mengikuti pemandu mengelilingi taman sari terlihat banyak sekali ukiran di tembok bergambarkan 3 burung merpati, bunga melati dan buah manggis. Ornamen ini memiliki arti bahwa kita harus melepaskan masa lalu kita untuk dapat berjalan tegak menyongsong masa depan yang lebih baik. Jangan pernah terpaku pada masa lalu, sehingga akhirnya melupakan bahkan hilang semangat untuk melukis masa depan indah di depan mata.

Sayangnya, kompleks taman sari ini saat ini dikelilingi oleh rumah-rumah penduduk sehingga mengurangi essensi dari taman sari yang sebenernya. Ketika kita berjalan mengelilingi areal luar taman sari kita harus melewati beberapa rumah warga yang terletak persis bahkan menempel pada tembok bangunan utama.

Akan tetapi, tetap taman sari dapat menjadi tujuan foto dan wisata di kota Jogja. Oya, sudah menjadi kebiasaan yang jamak dilakukan, jadi jangan lupa untuk memberikan sekedar tips kepada pemandu atas penjelasan dan pengalaman singkat yang menyejukkan, byur #lho

4. Kraton Jogja

Bersyukur perjalanan ini dilakukan di bulan Juli, karena (sepertinya) bertepatan dengan libur musim panas di mancanegara serta semacam festival seni di Jogjakarta. Beruntungnya, karena Kraton Jogja melakukan open house bagi siapa saja yang ingin melihat-lihat atau sekedar ingin tahu, ada apa sih sebenernya di dalam Kraton?

Tiket masuk Kraton terbilang sangat murah, hanya Rp 2.500 untuk wisatawan domestik dan Rp 12.500 untuk wisatawan asing. Harga yang cukup layak, meskipun kupikir harusnya turis-turis itu diminta bayar lebih mahal lagi hihihihi

Melewati gerbang pintu masuk, kita disambut dengan pelataran serta bangunan joglo yang memajang seperangkat gending gamelan jawa. Ketika kami sampai disana, terdapat pertunjukan seni gamelan yang cukup membangunkan suasana kental jogja.

Didalam area utama Kraton, tentu saja kita temukan rumah Sultan, yang tidak dapat kita lihat dari dekat. Namun itu tak mengapa, karena di dalamnya terdapat galeri lukisan yang indah dan menarik. Bahkan, lukisan utamanya sudah menggunakan konsep 3D yang mana memungkinkan kita merasa sedang berinteraksi langsung melalui tatapan mata dengan lukisan dimaksud.

Melangkah lebih jauh dapat kita temukan kereta kencana Sultan serta bangunan-bangunan berisi lampu-lampu, jam, keramik, poci, teko, cangkir dan lain sebagaimana yang cukup indah, menarik, dan juga unik.

5. Candi Prambanan

Sebelum memasuki areal candi, kita diwajibkan membeli tiket masuk seharga Rp 30.000.

Setelah berjalan sedikit dari pintu masuk, nampaklah menjulang tinggi bangunan candi Prambanan yang indah, kami pun langsung narsis berfoto berdua :DD

Saat ini candi sudah sangat rapi dan bersih, namun sayangnya candi Wisnu masih belum dapat disentuh langsung karena diberi pagar pembatas.

candi sewu yang sebelumnya (ntah tahun berapa, sekitar saya kelas 6 SD :P) berada di sekitar candi utama sekarang direlokasi di areal candi sewu yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Candi Prambanan.

Oya jangan lupa waktu kunjungan: tiket box  ditutup pada pukul 5 sore sedang kawasan candi pada pukul 6 sore, jadi jangan sampai kesorean yaaa nanti tak puas berfoto-foto #halah narsis:P

kalau ingin tahu lebih lanjut soal candi prambanan, mampir ke sini aja

http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/candi/prambanan/

6. Benteng Vredeberg

Sebelum mengunjungi kawasan terkenal Jogja, Malioboro, gak ada salahnya mengunjungi Benteng Vredeberg di dekat Taman Pintar seperti yang kami lakukan🙂 Selain mendapat view keren untuk ber-narsis-ria juga menambah pengetahuan tentunya.

Dari Halte TransJogja Taman Pintar, kita bisa berjalan kaki menyusuri monumen Serangan Umum 1 Maret 1949 sebelum akhirnya sampai di Benteng Vredeberg. Benteng ini berada di kawasan O (nol) kilometer, depan Gedung Agung.

7. Pasar Beringharjo

Selain Malioboro, Pasar Beringharjo juga memiliki daya tarik tersendiri. Di depan pasar, banyak pedagang pecel dengan beraneka ragam lauk mulai dari tempe dan tahu bacem, udang goreng, telur puyuh bacem, usus ayam, ati rempela termasuk burung dara goreng. Yummy!!!

Masuk ke dalam pasar, kalau tidak salah ada 3 lantai dengan segmen yang berbeda-beda, lantai 1 misalnya semua yang berbau batik ada disini. Harganya pun bisa dibilang murah, tapi harus bisa nawar. Yah, seperti pasar kebanyakan kadang karena tau kita dari luar Jogja, pedagang mematok harga yang terlalu tinggi untuk barang yang kita inginkan. Proses tawar menawar juga gak susah kok, asal harga yang ditawar masuk akal tentunya🙂

Sebelum melanjutkan perjalanan, kita bisa mampir ke Mirota (Toko) untuk membeli kerajinan, batik, atau Coklat Monggo. Ya Coklat nikmat ini bisa kita dapatkan disini, asli lho …

Dari Mirota, berjalan ke arah utara sekitar 10-15 menit kami sampai di ….

8. Malioboro

Malioboro sudah tentu jadi favorit kita, karena disini kita bisa membeli barang-barang oleh-oleh dengan harga yang cukup murah. Ada juga satu makanan unik yang hanya ditemui di Jogja, Rujak Ice Cream. Coba deh, pasti terngiang-ngiang rasanya🙂

Malioboro sore hari benar-benar menyajikan nuansa yang sangat Jogja. Di pinggir jalan pemusik jalanan memainkan alunan irama jawa dengan gaya kontemporer yang indah nan merdu, seakan Jogja menyambut siapa saja untuk datang ke sini.

Beragam oleh-oleh membanjiri trotoar seperti kaos jogja, sandal, celana pendek, lukisan, gelang, sampai tas yang bisa ditulis langsung oleh seniman pingjal (baca: pinggir jalan). Hasilnya tak kalah keren dari yang dijual di galeri-galeri seni. Jempol buat mereka!!!! Sayangnya, aku mengurungkan niat untuk membeli 1 tasnya, saat sampai rumah kepikiran juga jadinya😦

Lanjut dari pasar Malioboro naik becak ke pabrik pembuatan Bakpia Patok dan rekan-rekannya. Baru berdiri di pintu masuknya saja, aroma wangi bakpia mengundang rasa lapar….

Waktu makan malam pun tiba, belum ke Jogja kalau belum makan nasi Angkringan. Kami pun mampir ke Angkringan Joss “Pak Agus” stasiun Tugu, makan sebungkus nasi kucing dan lemon tea hangat cukup untuk perutku yang sedang diet. Sedang untuk Mba Ena, tratatata…… 2 nasi kucing dan kopi susu membuatnya tak kan lupa pengalaman kami🙂 eits sebelum ketinggalan, nasi kucing ini bisa kita makan ditemani dengan sate ati, sate daging, sate kikil, kepala ayam, and many more

Satu lagi, karena ada titipan dari mamak tercinta mampirlah kita ke warung gudeg. Membeli sepaket Gudeg Kering besek yang cukup membuat shock karena kemasannya yang kecil dengan harga yang cukup besar hahahahaha tapi tetep maknyus sodara-sodara :))

so, itu review jalan-jalan kita ke kota Jogja, can’t wait for the next trip ^_^


5 responses to “Trip to Jogjakarta (3 hari 2 malam)

  1. abi_aisha says:

    wah tyt mbak sari sdh jalan2 smp dit4 kelahiran saya rupanya. oleh2nya mana…..? hmm…bayangkn seandainya sarana transportasi spt transjogja bs diterapkan di malang, mgkn akan cukup mengurangi kemacetan lalu lintas kota malang yg sdh cukup keterlaluan ini ya mbak.

  2. setuju mas, cm yg ditakutkan adalah bagaimana kalo adanya transmalang justru jadi sumber kemacetan baru…… unless, kesadaran pribadi untuk hemat energi dgn naik kendaraan umum prosentasenya 200% atau lebih hihihihi

  3. Didik Moe says:

    Kayaknya seru banget tuh. Ikutan dong klo jalan2 lagi, Syukur2 klo ke Prambanan lg, jd nya bs sekalian pulang kampung. hehehe

  4. Boleh banget, kemaren di ajak gak mau😛

  5. Didik Moe says:

    yeee, abis nya girls days out sih.
    jadi agak sungkan mau ikutan.
    padahal sekalian mau ngenalin ke mas hari. lha wong udah mampir ke prambanan kok. jd sekalian mampir. hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: